font-family: 'Just Me Again Down Here', cursive;

Laporan Praktikum Amphibia


LAPORAN  PRAKTIKUM ZOOLOGI VERTEBRATA
AMPHIBIA




Di Susun Oleh :

Nama                    : Muhammad Aqsha
Nim                      : 60300110031
Kelompok             :  I  ( satu )
Jurusan                 : Biologi  (B1)



LABORATORIUM  BIOLOGI
FAKULTAS  SAINS DAN  TEKNOLOGI
UNIVERSITAS ISLAM NEREGI ALAUDDIN
MAKASSAR  2O11

BAB I
PENDAHULUAN

A.  Latar Belakang
Amphibia merupakan perintis vertebrata daratan. Paru-paru dan tulang anggota tubuh, yang mereka warisi dari moyang krosopterigia, memberikan sarana untuk lokomosi dan bernapas di udara. Atrium kedua dalam jantung memungkinkan darah yang mengandung oksigen langsung kembali ke dalamnya untuk dipompa ke seluruh badan dengan tekanan yang penuh. Sementara percampuran darah yang mengandung oksigen dengan darah yang kurang mengandung oksigen terjadi dalam vertikel tunggal, jantung yang beruang tiga itu agaknya memberikan penigkatan yang berarti dalam efesiensi peredaran dan dengan demikian meningkatkan kemampuan untuk mengatasi lingkungan daratan yang keras dan lebih banyak berubah-ubah.[1]
Amphibia hidup didekat air dan paling berlimpah di habitat lembab seperti rawa dan hutan hujan tropis sebagian besar amfibia sangat bergantung pada kulitnya yang lembab untuk melakukan pertukaran gas dengan lingkungannya.[2]




B.     Tujuan
Mengamati struktur morfologi dan anatomi katak sawah (Rana cancarivora).


[1]Kimball, J,W. Biologi edisi kelima jilid 3. (Jakarta: Erlangga). h. 931.
[2]Campbell.Neil  A. Biologi edisi kelima jilid 2. (Jakarta: Erlangga). h. 260.


BAB II
TINJAUAN PUSTAKA

Amphibia adalah vertebrata yang secara tipikal dapat hidup baik dalam air tawar  (tak ada yang di air laut) dan di darat. Sebagian besar mengalami metamorfosis dari berudu (akuatis dan bernapas dengan insang) ke dewasa (ampfibius dan bernapas dengan paru-paru),namun  beberapa jenis amfhibia tetap mempunyai insang selama hidupnya. Jenis-jenis yang sekarang ada tidak mempunyai sisik luar, kulit biasanya tipis dan basah.[1]
Amphibi merupakan perintis vertebrata daratan. Paru-paru dan tulang anggota tubuh, yang mereka warisi dari moyang krosopterigia, memberikan sarana untuk lokomosi dan bernapas di udara. Atrium kedua dalam jantung memungkinkan darah yang mengandung oksigen langsung kembali ke dalamnya untuk dipompa ke seluruh badan dengan tekanan yang penuh. Sementara percampuran darah yang mengandung oksigen dengan darah yang kurang mengandung oksigen terjadi dalam vertikel tunggal, jantung yang beruang tiga itu agaknya memberikan peningkatan yang berarti dalam efisiensi peredaran dan dengan demikian meningkatkan kemampuan untuk mengatasi lingkungan daratan yang keras dan lebih banyak berubah-ubah.[2]
Ada 3 bangsa dalam kelas amphibian, yaitu Ordo Caudata (Urodela), adalah amphibia yang pada bentuk dewasa mempunyai ekor. Tubuhnya berbentuk seperti bengkarung  (kadal). Beberapa jenis yang dewasa tetap mempunyai insang, sedang jenis-jenis lain insangnya hilang, Ordo Salienta (Anura), pandai melompat, pada hewan dewasa tidak ada ekor. Hewan dewasa bernapas dengan paru-paru. Kaki dan skeleton sabuk tumbuh baik. Fertilisasi eksternal. Ordo Apoda (Gymnophiana), tengkorak kompak, banyak vertebrae, rusuk panjang, kulit lunak dan menghasilkan cairan yang merangsang. Antara mata dan hidung ada tentakel yang dapat ditonjolkan keluar.[3]
 Dalam mempelajari ciri-ciri amphibian, dibedakan atas kepala, badan dan anggota gerak. Kepala berbentuk segitiga , dengan moncong yang tumpul, celah mulut lebar, bentuknya lebih kurang seperti bulan sabit. Rahang bawah tidak bergerigi, rahang atas bergerigi atau tidak. Pada umumnya vomer bergigi, kedudukan vomer terhadap nares posterior sangat penting untuk diidentifikasi. Di dalam mulut terdapat lidah yang melekat pada dasar bawah bagian anterior. Lubang hidung satu pasang terletak dekat ujung moncong mata besar dan mata atas yang tebal berdaging dan kelopak mata bawah yang lebih tipis. Di sebelah ventro caudal mata terdapat selaput pendengar yang lebar dan jelas dapat pula tertutup kulit sehingga bentuknya tidak jelas yang disebut membran tympanum.[4]
Pada badan bufo, badannya bulat, pada rana lebih langsing, pada bufo punggung hampir rata, tanpa penonjolan, pada rana ada penonjolan pada tempat pesendian antara columna vetebralis dengan gelang panggul. Pada ujung posterior terdapat lubang kloaka. Untuk anggota gerak tungkai depan lebih pendek, dibedakan atas humerus, radio, ulna, karpus dan dilengkapi dengan 4 buah jari. tungkai belakang lebih panjang. Diantara jari-jari pada umumnya terdapat selaput tipis yang ukuran lebarnya tergantung dari jenisnya. Pada sisi ventral jari-jari kadang-kadang dilengkapi dengan tuberculum suarticulare. Pada metatarsa luaratutau tuberculum metatarsal dalam.[5]
Kodok  dan katak mengawali hidupnya sebagai telur yang diletakkan induknya di air, di sarang busa, atau di tempat-tempat basah lainnya. Beberapa jenis kodok pegunungan menyimpan telurnya di antara lumut-lumut yang basah di pepohonan. Sementara jenis kodok hutan yang lain menitipkan telurnya di punggung kodok jantan yang lembab, yang akan selalu menjaga dan membawanya hingga menetas bahkan hingga menjadi kodok kecil. Sekali bertelur katak bisa menghasilkan 5000-20000 telur, tergantung dari kualitas induk dan berlangsung sebanyak tiga kali dalam setahun. Telur-telur kodok dan katak menetas menjadi berudu atau kecebong yang bertubuh mirip ikan gendut, bernafas dengan insang dan selama beberapa lama hidup di air. Perlahan-lahan akan tumbuh kaki belakang, yang kemudian diikuti dengan tumbuhnya kaki depan, menghilangnya ekor dan bergantinya insang dengan paru-paru. Setelah masanya, berudu ini akan melompat ke darat sebagai kodok atau katak kecil. Kodok dan katak kawin pada waktu-waktu tertentu, misalnya pada saat bulan mati atau pada ketika menjelang hujan. Pada saat itu kodok-kodok jantan akan berbunyi-bunyi untuk memanggil betinanya, dari tepian atau tengah perairan. Beberapa jenisnya, seperti kodok tegalan (Fejervarya limnocharis) dan kintel lekat alias belentung (Kaloula baleata), kerap membentuk ‘grup nyanyi’, di mana beberapa hewan jantan berkumpul berdekatan dan berbunyi bersahut-sahutan. Suara keras kodok dihasilkan oleh kantung suara yang terletak di sekitar lehernya, yang akan menggembung besar manakala digunakan.[6]
Banyak amphibia memperlihatkan prilaku sosial yang kompleks dan beraneka ragam, khususnya selama musim kawin. Katak umumnya merupakan makhluk yang diam, tetapi banyak spesies mengeluarkan suara-suaru untuk memanggil pasangan kawin selama musim kawin. Jantan bias bersuara keras untuk mempertahankan daerah kawin atau menarik betina.[7]
Keadaan kulit pada amphibian dapat kasar berbintil-bintil dan kering, dapat pula licin dan lembab. Tidak dijumpai adanya sisik, kadang-kadang kulit membentuk lipatan-lipatan tertentu baik pada badan atau pada tungkai. Warna kulit Rana ditentukan oleh adanya kronmathophora pada kelenjar kulit. Kromathophora yang mengandung pigmen hitam dan cokelat disebut melanophora sedangkan lipophora mengandung pigmen merah, kuning dan orange.[8]
Amphibia merupakan tetrapoda atau vetebrata  darat yang paling rendah. Amphibia. Tidak diragukan lagi berasal dari satu nenek moyang dengan ikan; mungkin hal itu terjadi pada zaman devon. Transisi dari air ke darat tampak pada, modifikasi tubuh untuk berjalan di darat, disamping masih memiliki kemampuan berenang di air, tumbuhnya kaki, sebagai pengganti beberapa pasang sirip, merubah kulit hingga memungkinkan menghadapi suasana udara, pengganti insang oleh paru-paru.[9]
Adapun berbicara mengenai hukum mengonsumsi hewan ambibi dalam hal ini katak menurut hukum islam adalah haram ,  hal ini dapat ditelaah melalui salah satu dari hadits Nabi saw sebagai berikut:
أَنَّ طَبِيبًا سَأَلَ النَّبِىَّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ ضِفْدَعٍ يَجْعَلُهَا فِى دَوَاءٍ فَنَهَاهُ النَّبِىُّ -صلى الله عليه وسلم- عَنْ قَتْلِهَا.
Artinya:
 “Ada seorang tabib menanyakan kepada Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam mengenai katak, apakah boleh dijadikan obat. Kemudian Nabi shallallahu 'alaihi wa sallam melarang untuk membunuh katak.” (HR. Abu Daud no. 5269 dan Ahmad 3/453. Syaikh Al Albani mengatakan bahwa hadits ini shahih).[10]

Al Khottobi rahimahullah mengatakan, “Dalil ini menunjukkan bahwa katak itu diharamkan untuk dimakan. Katak termasuk hewan yang tidak masuk dalam hewan air yang dihalalkan.
















[1]Mukayat Djarubito Brotowidjoyo. Zoologi Dasar. (Jakarta: Erlangga). h. 195.
[2]Kimball, J.W. Biologi Edisi 5 Jilid 3. (Jakarta: Erlangga). h. 931.
[3]Ibid.
[4]Tim Dosen. Penuntun Praktikum Taksonomi Vertebrata. ( Makassar : UIN Press ). h.  17.

[5]Schaums. Tss Biologi Ed. 2.(Jakarta: Erlangga).h. 243.

[6] Kodok dan katak. http://wikipedia.com. (Tanggal 14 Desember 2011).
[7]Campbell.Neil  A. Biologi edisi kelima jilid 2. (Jakarta: Erlangga). h, 262.
[8]Tim Dosen. op.  cit.
[9]Maskoeri  Jasin.Zoologi Vertebrata.(Jakarta:Sinar Wijaya).h. 74.
[10] Mylan’z Blog. http://milanti.wordpress.com/tag/hadits-riwayat-abu-daud/ (Tanggal 14 Desember 2011).


BAB III
METODE PRAKTIKUM

A.    Alat dan Bahan
1.    Alat
            Adapun alat yang digunakan dalam praktikum ini adalah alat seksi, jarum pentul, loupe, dan papan seksi.
2.    Bahan
           Adapun bahan yang digunakan dalam praktikum ini adalah katak sawah   (Rana cancaricvora).
B.  Waktu dan Tempat
Adapun waktu dan tempat dilaksanakannya praktikum ini adalah sebagai  berikut  :
Hari/tanggal         : Senin 28 November 2011
Waktu                  : Pukul 13.00 – 15.00 WITA
Tempat                 : Laboratorium Zoologi lantai II
                                       Fakultas Sains dan Teknologi
                                       Universitas Islam Negeri  Alauddin Makassar       
                           Samata-Gowa



C.  Prosedur Kerja
1.    Pengamatan bentuk luar
a.    Membius hewan dengan eter, sebagai berikut
1.    Mengambil segulung kapas, membasahi dengan eter sampai basah seluruhnya.
2.    Memasukkan kapas basah tersebut ke dalam botol pembius
3.    Memasukkan katak dalam botol pembius sampai katak tersebut lemas dan mati.
b.    Meletakkan katak yang sudah mati itu, di atas papan seksi pada perutnya dan mengamati bagian demi bagian.
1.    Kepala, disini terdapat :
a.    Mata yang mempunyai pelupuk, selaput kejap dan biji mata
b.    Membran timpani, kiri dan kanan
c.    Celah mulut yang lebar
d.   Lubang hidung luar.
2.    Leher, sangat pendek. Katak tidak bisa menoleh karena tidak ada sendi  antara tulang kepala dan tulang leher.
3.    Badan, meraba dengan ujung telunjuk bagian yang keras dan lembut, untuk mengetahui bagian yang bertulang. Pada bagian badan terdapat dua pasang kaki.
a.    Kaki depan, terdiri atas bagian-bagian :
1.   Lengan atas
2.   Lengan bawah
3.   Telapak
4.   Jari-jari tidak berselaput
b.    Kaki belakang, terdiri atas bagian-bagian :
1.   Paha
2.   Betis/tungkai
3.   Telapak yang menyatu (pes)
4.   Jari-jari yang bersselaput
c.    Pada pertemuan pangkal paha agak kepunggung terdapat kloaka.
d.   Mengamati seluruh permukaan kulit katak dengan loupe dan meraba dengan ujung jari
e.    Membuat gambar dengan pandangan dari punggung dan tunjukkan semua bagian-bagian yang disebutkan di atas.
2.     Mengamati bentuk luarnya , yang terdiri dari :
a.    Melentangkan hewan coba(katak) di atas papan seksi.
b.    Merentangkan kaki-kakinya dan menusuk telapak kaki dengan jarum pentul untuk menahan agar tidak goyang atau tidak bergerak.
c.    Menjepit kulit pertengahan perut dengan pinset secara melintang. Menggunting lipatan kulit yang terjepit sehingga terjadi sobekan.
d.   Memasukkan ujung gunting yang tumpul dalam sobekan kulit tersebut, gunting kulit kearah ekor sampai tertumbuk pada bagian dada.
e.    Melanjutkan pula pengguntingan kulit kearah ekor sampai tertumbuk pangkal paha.
f.     Mempelajari perlekatan kulit pada otot/daging. Tidak semua permukaan kulit melekat langsung pada daging. Hanya bagian-bagian tertentu kulit meleakt pada otot, yang disebut septum. Dengan semikian terjadi kantong-kantong antara kulit dengan otot yang di sebut saccus (kantong). Meletakkan kembali hewan tersebut pada punggungnya.
g.    Merentangkan kaki-kakinya dan pasak kembali dengan jarum pentul agar tidak mudah goyang.
h.    Membuat torehan pada pertengahan otot perut secara membujur, sampai tembus (hati-hati jangan sampai melukai isi perut).
i.      Memasukkan ujung gunting yang tumpul ke dalam celah yang terbentuk , dan guntinglah otot perut arah kepala sampai pada tulang dada. Melanjutkan irisan ini kearah ekor sampai pangkal paha.
j.      Masih dengan menggunakan gunting, membuat irisan ke samping dan tahan dengan jarum pentul.
k.    Dengan terbukanya rongga badan ini, maka akan kelihatan alat-alat sebagai berikut :
1.    Jantung berada dalam pericardium (mungki masih berdenyut).
2.    Hati, merah cokelat terdiri dari dua lobus besar.
3.    Lambung, berwarna keputih-putihan di sebelah kiri hati
4.    Usus, jelas-jelas berkelok-kelok
5.    Kantong kencing, berupa gelembung bening.
6.    Pada preparat betina dewasa jelas Nampak ovarium/indung telur yang hampir menutupiseluruh rongga perut.
7.    Paru-paru Nampak terjepit di sebelah kanan hati dan disebelah kiri lambung.
l.      Jangan dulu membongkar susunan alat-alat yang kelihatan tersebut.
m.  Membuat gambar sederhana alat-alat yang nampak tersebut.    















BAB IV
HASIL DAN PEMBAHASAN

A.  Hasil Pengamatan
1.    Morfologi
Katak sawah (Rana cancarivora)
 

  Keterangan gambar :
1.      Cavum Oris                         7. Pina analis
2.      Pina dorsalis I                     8. Pina pelvicus
3.      Pina lateralis                       9. Pina pectoralis
4.      Pina dorsalis II                   10. Gill silt
5.      Pina caudalis                       11. Cavum oris
2.      Anatomi
Katak sawah (Rana cancarivora)
                                                                          








 Keterangan gambar :
1.      Vesus                               
2.      Spiracle                              
3.      Pina Pectoralis                   
4.      Pina Pelvic                         
5.      Clasper
6.      Pina caudalis                      



a.    Sistem Sirkulasi
                                                                                            Keterangan gambar :
1.    Ren
2.    Ureter
3.    Cloaka



b.    Sistem  Pernapasan
                                                                                            Keterangan gambar :
1.    Aorta
2.    Arteri
3.    Attrium
4.    Ventrikel
5.    Vena





c.    Sistem Pencernaan
                                                                                            Keterangan gambar :
1.    Vilamen insang
2.    Insang
3.    Efferent branchialis
4.    Cill rakers


d.      Sistem Reproduksi
                                                                                            Keterangan gambar :
1.    Testis
2.    Vas efferensia
3.    Vas Defferens
4.    Anus





2.      Anatomi
a.    Sistem Pencernaan
Sistem pencernaan dimulai dari mulut, dari mulut makanan melalui faring, kemudian esophagus menghasilkan sekresi alkali mendorong makanan masuk ke lambung, di lambung makanan di cerna dan diproses dengan enzim. Lambung juga menghasilkan asam klorida untuk mengasamkan makanankemudian makanan masuk ke dalam usus melalui pyloris, kemudian sari-sari makanan masuk ke hati yang besar terdiri atas beberapa lobus dan bilus, yang kemudian ditampung dalam kantung empedu kemudian menuju ke rectum kemudian dikeluarkan melalui kloaka.
b.    Sistem Pernafasan
Sistem ini terdiri atas paru-paru dari kulit serta rongga kulit. Oksigen yang berasal dari udara larut dalam cairan permukaan respirasi atau alat dengan jalan difusi masuk ke pembuluh darah. Paru-paru katak terdiri atas dua saku elastis yang berisi lipatan membentuk kamar-kamar kecil yang masing-masing diliputi oleh pembuluh kapiler. Dari paru-paru kemudian disalurkan ke trakea dan menuju ke bronkiolus kemudian menuju alveolus.
c.       Sistem Reproduksi
Sistem genitalis masculinus yang berupa sepasang testis berbentuk oval  berwarna keputih–putihan, terletak di sebelah anterior dari dari ren; diikat oleh alat penggantungnya yang kita sebut mesorchium yang terjadi dari lipatan peritoneum. Di sebelah cranial testis melekatlah corpus adiposum suatu zat lemak berwarna kekunin –kuningan, sedang di sebelah median dataran testis terdapat saluran–saluran halus yang disebut vasa efferentia yang bermuara pada saluran kencing, kemudian menuju kloaka.
Sistem genitalis feminus yang terdiri atas sepasang ovarium diletakkan dengan bagian dorsal coelom oleh alat penggantung yang disebut mesovarium , yang terjadi dari lipatan peritoneum. Pada hewan yang telah dewasa kadang–kadang terdapat ova yang berwarna hitam dan putih berbentuk bintik–bintik. Pada ovarium juga terdapat corpus adiposum yang berwarna kekuning–kuningan. Ova yang telah masak menembus dinding ovarium untuk masuk ke dalam oviduk, selanjutnya ovum menuju ke kloaka pada suatu papillae.
d.      Sistem Sirkulasi
Sistem sirkulasi terdiri atas aorta kiri, kemudian ke serambi kiri menuju pada pembuluh nadi dan kemudian menuju ke  bilik  dan kembali lagi pada serambi kanan selanjutnya menuju aorta kanan. Pada umumnya diduga bahwa valvea spiralis dan truncus arteriousus memasukkan darah dan darah yang beroksigen (sebelah kanan) ke archus pulmocunatneus dan darah yang beroksigen (sebelah kiri) masuk ke archus sistimaticus dan arteri coratis.
3.     Klasifikasi
Adapun klasifikasi dari Katak sawah (Rana cancarivora)  adalah sebagai berikut :
 Kingdom        :           Animalia
 Filum              :           Chordata
 Ordo               :           Squaliformes
            Famili              :           Charcaridae
            Class                :           Chondrichthyes
 Genus             :           Charcarias
 Spesies            :           Rana carcarivora








.









BAB V
PENUTUP

A.  Kesimpulan
Berdasarkan hasil pengamatan yang telah dilakukan, dapat disimpulkan bahwa struktur morfologinya terdiri dari mulut (rima oris), mata  (organum visus), hidung (nares eksterna), jari-jari (digity), paha (femur),betis (cruz) kloaka. adapun struktur anatomi dari katak, terdiri atas kerongkongan (oesophagus), empedu (vesica felea), hati (hepar), lambung (ventriculum), usus halus (intestinum tenue), usus besar (intestinum erassum), rectum, kloaka, aorta kiri, serambi kiri, pembulu nadi, bilik, serambi kanan, aorta kanan, larink, parink, trakea, bronkus, bronkiolus, alveolus, oviduk, tuba valopi, ginjal, ovarium, sel telur, testis, ureter, kantong kemih.
B.  Saran
Setelah selesai melakukan praktikum, saran yang diajukan adalah ketika membius katak sebaiknya sangat berhati-hati karena bahan pembius (eter) yang digunakan uapnya cukup berbahaya.



DAFTAR PUSTAKA

Anonim. Kodok dan katak. http file://kelasamphibi.html.( Tanggal 27 Oktober 2011 ).

Campbell.Neil  A. Biologi edisi kelima jilid 2. Jakarta: Erlangga.1999.
Jasin, Maskoeri. Zoologi Vertebrata. Jakarta: Sinar Wijaya. 1992.
Kimball, J,W. Biologi edisi kelima jilid 3. Jakarta: Erlangga. 1999.
Mukayat, Djarubito. Zoologi Dasar.  Jakarta: Erlangga. 1989.
Tim Dosen. Penuntun Praktikum Taksonomi Vertebrata. Makassar : Universitas Islam Negeri. 2011.

Schaums. Tss Biologi Ed. 2. Erlangga.: Jakarta.1989.






0 komentar:

Poskan Komentar

Copyright © / Felix Catus

Template by : Urangkurai / powered by :blogger